Oleh: Hasan Achari Harahap
Tepat pada menit 90+1, setelah pemain Bangladesh mencetak gol yang membuat skor Indonesia versus Bangladesh dalam ajang The FIFA ASEAN Cup 2026 menjadi 7-2, komputer saya matikan dengan membawa rasa kecewa.
Pada saat yang hampir bersamaan, dari pertandingan lain, Malaysia sudah unggul 6-0 atas Singapura. Hasil itu membuat Timnas Indonesia harus kembali menambah gol jika ingin melaju ke babak final melawan Thailand.
Saya memilih berhenti menonton.
Mungkin begitulah bentuk sederhana dari rasa kecewa seorang penonton sepak bola. Mereka yang menyaksikan langsung di stadion mungkin juga sudah mulai bergerak meninggalkan tribun sebelum peluit panjang berbunyi. Ada yang berjalan sambil menundukkan kepala, ada yang sibuk dengan telepon genggam, ada pula yang mungkin sudah menerima kenyataan bahwa pertandingan malam itu tidak berakhir seperti yang mereka harapkan.
Saya pun demikian. Menarik selimut lebih awal, membawa rasa kecewa, padahal pertandingan belum benar-benar selesai.
Namun, pagi hari membawa cerita yang berbeda.
Wajah sumringah itu kembali ketika saya menggulir media sosial. Sebuah video mengabarkan bahwa Indonesia lolos ke final The FIFA ASEAN Cup 2026. Awalnya saya tidak begitu percaya. Saya kemudian melihat video resmi pertandingan di platform Vidio. Di situlah rasa terkejut itu datang. Ternyata, setelah saya mematikan komputer karena kecewa, pertandingan belum berakhir dengan skor 7-2.

Ada dua gol lagi. Kevin Diks dan Mitch Baker mencetak gol yang mengubah skor menjadi 9-2. Dua gol yang saya lewatkan karena terlalu cepat merasa pertandingan telah selesai.
Peristiwa itu mengingatkan saya pada satu malam di Camp Nou, Barcelona, 27 tahun silam. Final Liga Champions 1999 antara Manchester United dan Bayern München. Bayern unggul 1-0 dan waktu pertandingan hampir habis. Banyak orang mungkin sudah membayangkan pesta kemenangan Bayern. Tetapi Manchester United belum menyerah.
Teddy Sheringham mencetak gol penyama kedudukan pada menit 90+1. Dua menit kemudian, Ole Gunnar Solskjær mencetak gol kedua. Manchester United berbalik menang 2-1 dan mengangkat trofi Liga Champions.
Malam itu, tangis Sammy Kuffour pecah. Ia dan rekan-rekannya di Bayern München sudah begitu dekat dengan trofi, tetapi dua gol di penghujung pertandingan mengubah segalanya.
Kisah serupa, meski dalam panggung yang berbeda, terjadi pada pertandingan Indonesia dan Bangladesh kali ini. Dua gol terakhir Indonesia mengubah suasana. Di saat pemain-pemain Malaysia mungkin sedang merayakan kemenangan 6-0 atas Singapura di Stadion Si Jalak Harupat, kabar dua gol Indonesia mengubah arti kemenangan tersebut. Skor besar itu ternyata belum cukup untuk membawa Malaysia melaju ke final.
Sebuah pertandingan barangkali menjadi gambaran paling tepat untuk memahami satu kalimat sederhana yaitu “Selama peluit akhir belum berbunyi, harapan belum berakhir.”
Sepak bola memang selalu menyimpan kemungkinan sampai detik terakhir. Selama wasit belum meniup peluit panjang, kesempatan masih terbuka, meskipun waktu yang tersisa hanya beberapa menit atau bahkan beberapa detik. Justru pada saat-saat seperti itulah mental, keyakinan, dan keberanian seorang pemain benar-benar diuji.
Dari dua pertandingan yang berbeda zaman tersebut, ada pelajaran yang sama tentang arti pantang menyerah. Pantang menyerah bukan sekadar kata-kata yang terdengar indah, melainkan sikap yang harus hidup dalam diri setiap pemain. Ketika keadaan tidak berpihak, ketika jumlah gol belum cukup, dan ketika waktu terus berjalan menuju akhir pertandingan, seorang pemain tetap harus percaya bahwa sesuatu masih mungkin terjadi.
Mental seperti itulah yang harus terus tumbuh dalam diri pemain Timnas Indonesia. Mereka harus mampu bertahan dalam tekanan, terus berjuang sampai detik terakhir, dan tetap percaya pada peluang meskipun keadaan terlihat sulit.
Malam itu saya memang sempat menyerah sebagai penonton. Saya mematikan komputer pada menit 90+1 dan pergi tidur dengan membawa rasa kecewa. Namun para pemain Indonesia ternyata belum menyerah. Dua gol kemudian datang dan mengubah jalannya cerita. Pagi harinya, ketika mengetahui Indonesia lolos ke final, saya kembali tersenyum.
Semoga semangat pantang menyerah itu tidak berhenti pada pertandingan ini saja. Semoga tren positif ini terus berlanjut pada laga final melawan Thailand, 5 Oktober 2026 mendatang.
Bravo Timnas Garuda

